Perusahaan-perusahaan di Asia tampaknya lebih siap membayar bunga dividen yang stabil ketimbang perusahaan di Eropa dan Amerika Serikat. Pasalnya, ini terjadi karena ruang gerak perusahaan dibatasi oleh neraca keuangan yang sangat ketat dan juga kebutuhan untuk menyimpan uang tunai selama ancaman mewabahnya covid-19.Pun jua dengan investor berburu perusahaan yang memberi imbal hasil dengan pendapatan yang stabil tatkala bank sentral global dunia mendorong suku bunganya mendekati nol Reuters melaporkan Selasa (07/04) petang.Analis mengatakan bahwa di kala perusahaan-perusahaan Asia juga mengalami tekanan akibat penutupan pabrik dan penurunan permintaan tahun ini, arus kas perusahaan ini malah lebih besar sehingga dapat membantu mempertahankan pembayaran bunga dividen.Nyaris 70 dari 600 perusahaan yang terdaftar di bursa Eropa memotong atau menangguhkan pengembalian dividen antara tanggal 24 Februari dan 31 Maret, analisis laporan mengungkapkan, sementara 18 dari 100 perusahaan yang terdaftar di bursa London telah memotong atau menunda bunga dividen perusahaan.Pekan lalu,  Goldman Sachs Group  Inc (NYSE:GS) (NYSE:GS) mengatakan pihaknya memperkirakan dividen S&P; 500 akan turun 25% pada tahun 2020. Hal ini disebabkan karena pembayaran dividen besar industri tertentu sangat rentan terhadap guncangan ekonomi dari wabah covid-19.Indeks Harga Saham Gabungan (Jakarta Stock Exchange Composite) ditutup melemah 0,69% atau 33,19 di 4.778,64 pukul 15.15 WIB.